Senin, 20 Juni 2011

Eksotika Tanah Toraja, Dua Hari Saja


Sudah lama saya penasaran ingin pergi ke Toraja. Sebagai karyawan yang bekerjanya lebih banyak di lapangan, tidak saya pungkiri sudah banyak kota hingga pelosok desa di negeri ini yang pernah saya kunjungi. Kecuali Toraja tentunya. Karenanya sisa cuti kantor tahun ini akan saya gunakan untuk mengunjungi tanah impian di Sulawesi Selatan itu. Tiket pesawat sudah di tangan, persiapan fisik dan tentu tak ketinggalan kamera. Saya memang gemar mengabadikan setiap perjalanan dan petualangan dalam sebuah potret yang indah.



Perjalanan dimulai saat menjejakkan kaki di bandara Hasanudin Makassar. Dari informasi yang sudah banyak saya kumpulkan sebelumnya, saya putuskan naik bus umum untuk sampai disana. Saya sengaja memilih perjalanan malam hari, jam 10 malam waktu setempat. Akhirnya pagi-pagi sampai juga saya di tempat yang lama saya idamkan itu. Seketika itu lelahnya perjalanan darat yang saya tempuh hampir 10 jam itu terbayar.



Yess!! Saya berseru. Sejauh mata memandang, hamparan sawah hijau menyejukkan mata dengan deretan rumah adat, Tongkonan. Bangunan khas dan unik ini adalah kebanggaan masyarakat Toraja. Tongkonan yang asli, atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk. Tapi saat ini atapnya sudah banyak yang terbuat dari seng, mungkin saja karena bambunya sudah sulit didapat hehehe *sok tahu. Asal tahu saja Tongkonan ini juga bisa menunjukkan status sosial masyarakat lho.
Ternyata benar, Toraja adalah daerah yang begitu kaya budaya. Bahkan budaya penguburan pun begitu unik. Julukan sebagai land of death memang pas disematkan. Bayangkan saja ada banyak prosesi dan upacara yang dilakukan mengiringi kematian seseorang. Orang Toraja menganggap bahwa kematian adalah tahapan dari kehidupan tiap manusia untuk beranjak pada tempat yang lebih tinggi. Yaitu menuju bintang di atas langit sebagaimana leluhur mereka dulu berasal. Karena itu setiap kematian selayaknya dibuatkan perayaan.










Simbuang Batu Simbol Kebangsawanan
Tempat pertama yang saya kunjungi adalah sebuah tempat pemakaman. Dan ternyata desa-desa di Toraja punya cara masing-masing untuk mengubur orang yang sudah meninggal. Kebetulan saya mengunjungi desa Bori Parinding. Di sini makam dibuat dari batu besar yang dipahat. Batu-batu besar biasanya dipahat menjadi beberapa liang berukuran 2x2x2 meter atau bisa juga berukuran 2x3x3 meter.
Namanya saja memahat batu, kebayang dong lamanya waktu yang dibutuhkan. Menurut orang-orang sekitar bisa sampai berbulan-bulan…hmm *hebat!!!

Masih di Bori Parinding, saya melihat batu-batu besar (menhir) *hehehe jadi inget obelix, menhir tersebut diikat rantai atau ditanam di tanah saat upacara pemakaman. Menhir ini disebut simbuang batu, ditanam sebagai simbol bahwa yang meninggal adalah seorang bangsawan. Konon hingga saat ini terdapat 114 simbuang batu di Bori Parinding dan ada yang sudah berumur ratusan tahun…*wow…


Sejalan dengan perkembangan jaman, saat ini orang Toraja mulai memodernisasi cara penguburan jenazah dengan cara membuat patane. Yang merupakan kuburan batu yang dibentuk Tongkonan. Umumnya patane digunakan sebagai makam keluarga.

Tau-tau Benda apakah ini?

Tau-tau adalah patung kayu tiruan bagi orang yang sudah meninggal. Ukurannya bervariasi dari yang setinggi lutut hingga yang serukuran manusia. Namun satu hal yang tampak dari tau-tau tersebut adalah penggambaran wajahnya yang terlihat tenang, seolah-olah menggambarkan bahwa jenazah-jenazah yang telah terkubur tersebut hidup tenang di alam baka. Deretan tau-tau biasanya dipasang di depan gua. Sebagaimana diketahui gua merupakan tempat pemakaman di Toraja. Karena itu tau-tau ditempatkan di depan makam.
Patung kayu ini terbuat dari kayu nangka. Sedangkan matanya dibuat menggunakan tulang dan tanduk kerbau. Begitu menurut penduduk sekitar yang saya jumpai. Dan ternyata tidak semua orang meninggal boleh memasang tau-tau karena hanya kaum bangsawan saja yang boleh dan bisa memasangnya.

Ne’ Gandeng Sa’dan dan Wanita Cantik

Puas mengunjungi Bori Parinding, sekarang saatnya ke Sa’dan sebuah kecamatan di kabupaten Toraja Utara, sekitar 30 menit dari Bori Parinding. Saat di Bori Parinding suasananya sunyi dan mencekam. Karena sejauh mata memandang tampak menhir-menhir terhampar.
Di Sa’dan ini suasanya tampak lebih nyaman dan menyejukkan.
Pohon, sawah dan tumbuhan hijau lainnya banyak saya jumpai disini. Panoramanya sangat indah. Diantara hamparan hijau itu menyembul, atap-atap tongkonan yang eksotis.


Saya tiba di museum Ne’ Gandeng Sa’dan. Di depan mata saya terlihat deretan Tongkonan yang berjajar rapi dengan rumput-rumput hijau yang tumbuh di tanah sekelilingnya.
Saat berkeliling sekitar museum saya menjumpai nenek berusia sangat lanjut. Nenek yang sedang duduk dengan satu kaki diangkat ke atas itu mengaku usianya nyaris 100 tahun.
Nenek cantik begitu saya menyebutnya karena gurat kecantikannya masih begitu nampak jelas tergambar diwajahnya yang keriput. Namun demikian keriput-keriput itu justru mempertegas kalau nenek ini benar-benar perempuan tercantik di tanah Toraja *kamu adalah perempuan paling cantik…di negriku Indonesia…..ahmaddhani modeon*
Hidung mancung, bibir tipis dengan sepasang bola mata hijau keabu-abuan. Kecantikan nenek ini sangat natural meskipun dibalut baju dan sarung yang sudah lusuh. Tidak menyia-nyiakan kesempatan saya abadikan nenek tersebut dalam berbagai frame.
Tiba-tiba saja nenek berteriak dan berbicara keras sambil menunjuk-nunjuk kamera saya. Rupanya dia sangat tidak suka dan tidak nyaman dikuntit mata kamera saya ini…*maaf ya, nek..^_^ .
Napak tilas budaya hari ini, saya cukup puas. Begitu banyak hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya memutuskan melanjutkan petualangan ini esok hari.



Ma’toding, Tradisi Sawer ala Toraja

Keesokan harinya, Karena kelelahan saya bangun terlambat. Sudah hampir jam 10 pagi sementara saya belum mandi, belum juga sarapan dan berbenah. Rencana hari ini adalah mengunjungi satu cagar budaya lagi sebelum akhirnya bertolak kembali ke Surabaya. Setelah siap, saya segera menuju ke perkampungan rumah adat Ketek kesu. Sesuai namanya yaitu perkampungan rumah adat, maka di tempat ini semua rumah tentu saja berbentuk Tongkonan asli dengan atap dari bambu.

Di sana saya disambut 5 orang gadis dengan busana adat Toraja. Dilihat dari gerak geriknya sepertinya mereka bersiap untuk menari. Benar saja setelah gendang ditabuh oleh para pemuda,


gadis-gadis muda mulai berbaris rapi dan melenggang. Kata masyarakat disini tarian ini namanya Pa’gellu, Gellu itu artinya tari, Ma’gellu sama dengan menari dan Pa’gellu artinya penari.


Tarian ini menggambarkan kegemberiaan dan sukacita. Karena itu pa'gellu biasanya ditarikan gadis-gadis muda yang diidentikkan dengan keceriaan dan kegembiraan.
Pa’gellu biasa dimainkan pada acara syukuran, pernikahan dan perayaan lainnya. Rupanya tradisi sawer juga ada disini.
Kalau pada tarian di Jawa sawer umumnya diselipkan pada bagian tubuh si penari, berbeda pada Pa’gellu.

Jika penonton merasa terhibur dengan tarian ini mereka akan menyelipkan uang. Menariknya saweran yang biasanya berupa


uang kertas itu dijepitkan pada sebatang bambu/kayu kecil.Selanjutnya batang kayu itu disisipkan diantara hiasan kepala si penari. Tradisi nyawer di Toraja dikenal dengan istilah ma’toding.

































Tanduk Kerbau Simbol Status Sosial

Usai tarian pa’gellu, mata saya tertuju pada deretan tanduk kerbau yang berjajar di muka Tongkonan. Menarik dicermati karena ada Tongkonan yang dihiasi banyak tanduk sementara rumah lain hanya beberapa tanduk saja. Bahkan ada rumah yang tak dilengkapi hiasan tanduk kerbau.

Ternyata tanduk kerbau ini berhubungan dengan upacara Rambu Solo. Dalam prosesi pemakaman tersebut kerbau dianggap sebagai kendaraan menuju alam baka. kerbau memiliki posisi istimewa dan menjadi salah satu simbol prestise dan kemakmuran di Toraja.
Jumlah kerbau yang dikorbankan menjadi salah satu ukuran kekayaan atau kesuksesan anggota keluarga yang sedang menggelar acara.
Kebanggaan tersebut terlihat dari jumlah tanduk kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan keluarga penyelenggara upacara Rambu Solo.
Singkatnya makin banyak tanduk kerbau yang ada di depan Tongkonan menunjukkan makin sukses suatu keluarga itu.

Dua hari perjalanan ini sungguh memberikan banyak pengetahuan baru tentang budaya Toraja terutama tentang kesakralan kematian bagi masyarakat di sana. Semoga dilain waktu saya bisa melihat keindahan Toraja dari sisi yang lain.

Jumat, 19 Desember 2008

Pemenang Codymaxx autophotography contest Surabaya

Berdasarkan penilaian team Codymaxx yang merupakan gabungan dari Fotografer, desainer dan penggemar fotografi secara umum, terkait dengan pelaksanaan lomba yang diadakan pada tanggal 12-16 november 2008 di Surabaya maka bersama ini kami umumkan pemenang2 nya yaitu :


Judul: Autofiesta

Juara 1 nurussadah dengan judul sexy Ford

Juara 2 adie wiratno judul auto fiesta

Juara 3 Martin foto no 2

Demikianlah hasil ini kami umumkan.

Bagi para pemenang tersebut di atas di harapkan mengirimkan file resolusi 300 dpi maksimal file 2 mb, via email ke media@codyenterprises.com dan di CC ke Cody.Enterprises@Gmail.com

Terima kasih atas partisipasi semuanya !!!

our web gallery

http://codyenterprises.multiply.com

http://codymaxx.multiply.com


Kamis, 18 Desember 2008

XL AWARD 2008

Foto-foto ini untuk diikutsertakan dalam lomba foto "XL Award 2008"
untuk kategori UMUM


kabar dari arab saudi


Revolusi telekomunikasi bergerak telah menghapus sekat antar daerah bahkan antar negara. Kini siapapun bisa saling bertukar kabar. Sekalipun terpisah jarak ribuan mil jauhnya. Seorang ibu bisa dengan lega mendengar kabar dari anak perempuannya yang sedang mengadu nasib di negeri orang.


''halo, kita orang baik-baik saja disini''


Ponsel bukan lagi milik segelintir orang. Dulu hanya pebisnis dan orang-orang dengan level ekonomi tertentu saja yang memiliki dan bisa menggunakan fasilitas telepon selular. Tetapi sekarang, siapapun, darimanapun dan apapun profesinya sudah sangat mengakrabi kehadiran piranti komunikasi bergerak ini.


''mak, operasiku (lisa face of) lancar''


Luapan kegembiraan Lisa, pasien face of di RS Dr. Sutomo Surabaya. Ekspresi rasa senangnya ketika serangkaian operasi wajah yang harus dilaluinya sedikit demi sedikit menunjukkan hasil



Rabu, 17 Desember 2008

Lomba Foto Dancow "Me & My Dad"

Yang ini sisi lain dari aku........kalo biasanya suka ngatur2 orang buat difoto. Sekarang justru giliran aku yang di atur2, secara nggak ada portfolio jadi model, aduh...susah ya bow. Sekalinya jadi model, malah dapet partner yang susah diatur. mau di shoot kabur sana, lari sini.....:)



Ceritanya lagi photo session buat lomba Dancow. Dengan tema "asiknya main sama ayah" jadi me & my 'lil girl hrs menunjukkan keceriaan. Sementara diseberang sono si bunda sibuk ngintip dari balik lensa sambil sesekali usap2 keringat (knp bund, kameranya berat yach?)

.......Dan inilah hasilnya




Jumat, 21 November 2008

Gemerlap Panggung










Sketsa Wajah

Ekspresi wajah manusia menyimpan sejuta makna....
tiap fase usia memunculkan sketsa guratan wajah yang berbeda
Inilah gambaran kehidupan manusia dimulai dari ekspresi lucu dan menggemaskan dari bayi mungil, senyum manis si gadis penari, gairah muda seorang wanita hingga tatapan penuh arti dari guratan wajah wanita paruh baya









Selasa, 18 November 2008

Beyond Fashion

desainer : Lenny Kurniawati